Banner 468 x 60px

 

Minggu, 19 Februari 2012

Sang Pedestrian

0 komentar

Sang Pedestrian
Sang Pedestrian
Sastra Ideologis dan Patron Sastra *
Oleh : Tono Viono**

“Di dunia ksatria, mereka seperti diharuskan untuk saling dendam untuk kemudian saling mengalahkan. Merayakan kemenangan secara berlebihan adalah naluri paling buruk dari manusia sejak masa purba hingga masa klasik, bahkan bias jadi nanti pada manusia modern” –Gandamayu

Dahi saya sedikit mengerut ketika mendengar kang Yopi Setia Umbara sebagai pembicara dan juri dari peluncuran buku “Situ Waktu” terbitan HIMA Satrasia UPI beberapa waktu lalu. Di buku itu terdapat kumpulan puisi dari beberapa penulis pemula maupun yang sudah tersohor. Dalam unsur tematik, kebanyakan puisi yang terdapat di buku itu adalah cinta. Memang benar, estetika bahasa puisi sangatlah cocok untuk tema seperti ini. Juga benar bahwa tema cinta itu sangatlah universal. Namun kita tidak bisa memungkiri juga bahwa puisi atau umumnya karya sastra tidaklah lahir dari kekosongan budaya.
Penggunaan diksi non-modern atau diksi alam dapat menandakan bahwa penyair tersebut seolah mengekang diri dari budaya post-modern dan benda-bendanya. Hal yang aneh ketika mengetahui semua penyair yang ada di buku ini teman saya, dan tinggal di kota! Penyair dalam buku ini seolah enggan berbaur dengan transisi benda modern. semisal penyair lebih banyak menggunakan diksi “ranting-ranting” daripada “kaleng bekas” yang menurut saya memiliki kadar puitik yang sama. Saya tidak tahu apakah para penyair memang sengaja lari dari budaya yang melanda mereka atau mereka memang sudah merasa bosan dengan kadar modernitas dunia saat ini.
Sang Pedestrian
Dunia sudah layaknya kertas yang dilipat, semua begitu cepat. Saya berada di ujung kertas dan anda berada di ujung lain kertas, kemudian saya lipat dan syuut! kita dapat bertemu secepat kilat. Setiap manusia adalah homo signtified. Manusia adalah pembuat dan penerima tanda. Manusia menangkap tanda dari lingkungannya, dan mengubahnya menjadi tanda baru. Begitulah seterusnya sehingga menjadi konvensi dan timbulah kebudayaan. Dalam menangkap dan mengubah tanda tersebut manusia memiliki kala yang berbeda-beda. Ada yang berlari dan ada yang menjadi siput. Semua tergantung manusia itu sendiri.
Penyair dalam hal ini adalah seorang pedestrian, seorang pejalan kaki. Mereka tidak berlari dalam menangkap dan mengubah tanda tapi berusaha mengamatinya, memikirkannya, lalu mengubahnya ke dalam bentuk tanda lain : bahasa. Penyair tidak akan serta-merta mengaburkan tanda-tanda kebudayaan di sekitarnya, karena mereka berjalan kaki tidak berlari seperti orang kebanyakan.
Cekokan modernitas pasti akan sangat terasa dalam tanda yang dikeluarkan seorang penyair. Baik itu dari benda-benda modern ataupun pemikiran yang dituangkannya dalam tanda bahasa. Seharusnya ada pergulatan pemikiran antara penyair yang berjalan lambat dengan dunia yang bergerak cepat, itulah puisi. Itulah kutukan seorang penyair.
Di krisis modernitas yang melanda negeri ini, terasa banyak sekali penyair yang sengaja mengaburkan pandangan mereka kepada tanda dari dunia luar. Dari unsur tematik saja, penyair seakan dibuat buta untuk hal besar semacam korupsi, krisis moral, dan masalah sosial lain di Negara ini. Penyair seakan hanya berdiam di pojok kamar didera badai GALAU yang marak akhir-akhir ini. Penyair terjebak dalam dunia autism-nya sendiri. Sastra seolah ikut pincang ketika realitas social pincang, bukannya malah mengobati. Jika begini, maka ada satu fungsi estetis dari karya seni yang tersisihkan, yaitu “possessing” atau “merasuki”. Sastra tidak menjadi alat kebudayaan, namun hanya menjadi hiburan semata. Atau lebih jauh lagi sastra tidak lagi menduduki kursi yang penting di Negara ini. Mungkin kalau seperti ini Chairil Anwar di kubur akan menangis tersedu-sedan. Atau Sutardji malah mengiau sengiau-ngiaunya.
Sastra Ideologis dan Patron Sastra
Hal yang sangat kentara menjadi tanda bahwa sastra tidaklah menjadi konsumsi umum masyarakat kebanyakan adalah media. Seperti kita ketahui, media satu-satunya yang menjembatani karya sastra dan masyarakat adalah Koran Minggu! Dan itupun dengan kolom yag terbatas. Fakta tersebut menunjukkan bahwa sastra bukanlah menjadi bacaan prioritas khalayak, atau setidaknya dalam factor ekonomis tidak memberikan incame yang banyak bagi perusahaan media. Atau kemungkinan terburuk bagi kita pembaca sastra, yaitu sastra bisa jadi bukanlah bacaan yang penting utuk masyarakat.
Ini mengakibatkan kecurigaan saya terhadap sastra yang kini tidak lagi menjadi alat pemersatu, alat kebudayaan, atau taruh buruknya alat politik. Jika kita runut di masa lampau, kita akan menemukan maestro semacam Pramoedya AT, Chairil Anwar yang berhasil menggunakan sastra sebagi penyalur ideology mereka, penyalur falsafah mereka. Dan tentunya, sastra telah berhasil “merasuki” masyarakat. Atau kita terbang jauh ke Rusia, dimana sastrawan sepionir Maxim Gorki yang berhasil mencekoki masyarakatnya dengan ideology Marxist melalui prosanya. Artinya, pentransformasian tanda bahasa menjadi kebudayaan memang benar-benar terjadi. Begitupun dengan fungsi estetis dari karya seni itu hadir, yaitu merasuki, atau bahasa telah benar-benar menjadi mitos.
Saya teringat kepada novel inspiratif karya Akmal N. Basral berjudul “Anak Sejuta Bintang” yang merupakan kisah Aburizal Bakrie semasa kecilnya. Siapa yang tak kenal Aburizal Bakrie. Novel ini merupakan pesanan Aburizal kepada penulis tersebut. Saya memang belum membaca novel ini, namun saya terlanjur curiga terhadap novel ini. Alasannya, mungkin karena saya belum berani masuk ke dunia ideologi-politis yang mungkin saja ada di dalam novel ini. Tapi dekatnya, saya berpikir bahwa sastra sekarang dapat dipesan. Memang, pemesanan sastra tidak dapat disalahkan, seperti halnya seseorang meminta seorang penulis iklan untuk membuat kolom advertisornya. Selain itu, pemesanan sastra sudah terjadi dari dulu sejak zaman kerajaan. Para raja menggunakan sastra sebagai alat kekuasaan mereka. Terkadang mereka menggunakan mitifikasi sehingga menjadi mitologi supaya membuat rakyatnya segan.
Tetapi sekali lagi, apakah benar novel ini tidak memiliki sifat infestasi? Ternyata sayapun masih takut dengan sastra ideologis.
Jika kita melihat pada sederet nama penyair dan kritikus sastra Indonesia seperti Sapardi , Danarto, Faruk, maka jarang sekali kita dapat merasakan secara gamblang ideologi masing-masing tersebut. Meskipun karya mereka tak jarang berbau social. Padahal, penyair atau sastrawan adalah seorang intelektual publik yang berkewajiban sebagi The Messenger atau pembawa pesan.
Pasca kekalahan LEKRA dari otoritas kebudayaan Indonesia, perkembangan sastra kritis mengalami hambatan yang besar. Nyoman Kutha Ratna dalam Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, menyebutkan bahwa berbagai pengertian dari sastra, khususnya sastra ideologis/sastra propagandis, lebih banyak dikaitkan dengan pengertia negatif (2005:379). Lebih banyak disebutkan bahwa sifat negatif itu dikarenakan sastra ideologis lebih banyak meninjau fungsi dan manfaat karya sastra dengan sudut pandang tujuan, sehingga mengorbankan hakikat karya sebagai rekaan, baik sebagi kualitas estetis atau kualitas kultural. Lebih ekstrem lagi sastra ideologis dikaitkan dengan ideologi Marxist.
Di zaman kebebasan berideologi ini sastra ideologis seolah dicap haram karena faktor eksternal sastra itu sendiri : yaitu sistem politik Negara yang melarang ajaran komunis-Marxist. Di masa orde baru karya sastra yang dicap kiri diberangus dengan berbagai cara. Hal ini menyebabkan mati surinya sastra ideologis dalam kurun waktu yang lama, bahkan mungkin hingga sekarang.
Jika begitu maka sangatlah mungkin sastra digunakan sebagai alat politik? Benar sekali, namun ideologi dapat diartikan secara kritis sebagai seperangkat ide melalui mana orang membiasakan dirinya sendiri dan orang lain dalam konteks sosio-historis yang spesifik, dan melalui mana kemakmuran kelompok-kelompok tertentu dikedepanan. Itulah cara kreatif yang digunakan penyair sebagai pembawa tanda kebudayaan, penyampai otoritas ideologi mereka kepada masyarakat.
Namun kebebasan ideologi dalam sastra juga mungkin membawa dampak buruk bagi pemikiran masyarakat. Apa yang disampaikkan oleh seorang sastrawan tidak selalu benar objektif, tapi ada kalanya terdapat pikiran subjektif yang mungkin saja buruk bagi budaya masyarakat. Hal ini dapat terjaga apabila adanya patron atau skala kebenaran dalam karya sastra. Lalu yang menjadi pertanyaan kita bersama yang manakah patron sastra Indonesia sekarang? Atau siapakah sastrawan yang berhak menjadi patron sastra Indonesia? H.B Jassin-kah? Atau kita sebagai pembaca sastra?
Mari berdiskusi

*Tulisan ini aan dimuat di Jurnal Raja Kadal
** Penulis adalah seorang pejalan kaki UPI-Cimindi dan sejenis kadal
Read more...

Senin, 06 Februari 2012

Koran

0 komentar
Koran
Read more...

Kamis, 02 Februari 2012

Maulid Nabi dan Krisis Kepemimpinan

0 komentar

Maulid Nabi dan Krisis Kepemimpinan
Posted by PuJa on February 5, 2012
Juma Darmapoetra
http://www.suarakarya-online.com/

Persoalan kebangsaan mulai dari korupsi, mafia hukum dan anggaran serta amburadulnya politik, semua berpangkal pada kepemimpinan bangsa yang mulai mengalami kritis. Padahal, untuk menghadapi permasalahan tersebut Indonesia dewasa ini butuh seorang figur pemimpin yang bisa menjadi panutan dan memberikan pencerahan. Bertepatan dengan maulid Nabi ini, sudah seharusnya sosok kepemimpinan Nabi Muhammad Saw, menjadi teladan terutama bagi para pemimpin bangsa untuk mencapai negara yang sejahtera.
Maulid Nabi merupakan medium yang mengakrabi kembali sang uswatun hasanah, sang penyejuk rohani, pembawa ajaran ketuhanan (ajaran langit atau samawi), Nabi Muhammad. Yakni, sosok teladan pemimpin umat yang menjadi inspirasi manusia. Karen Amstrong (2004), menempatkan Nabi Muhammad sebagai teladan yang mampu merombak peradaban dunia.
Sosok kepemimpinan sang Nabi, dibutuhkan mengingat kompleksitas permasalahan yang melilit indonesia, mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya bahkan agama. Krisis multi dimensi yang dihadapi bangsa ini berakibat pada krisis kepemimpinan. Moral politik, dan etika kepemimpinan sudah tiada lagi menjadi pegangan hidup para pemimpin. Penyelewengan dan penyalahgunaan kekuasaan mengakibatkan carut-marut dan silang sengkarut persoalan bangsa yang semakin rumit bisa menuju kehancuran bangsa.
Realitas yang dihadapi masyarakat telah sampai pada titik kulminasi dan batas nadir kehidupannya. Sebuah masa dimana hukum machiavelian dan konsep survival of the fittest tengah menjangkiti pemimpin dan masyarakat. Korupsi, ketidakadilan hukum, terorisme dan penyalahgunaan jabatan merajalela. Rakyat menjadi tumbal angkara murka dan kebengisan pemimpin. Rakyat sudah bukan lagi partner untuk menjalankan konsep kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Namun, rakyat dijadikan objek untuk mengeruk keuntungan sendiri, keluarga dan golongan.
Pemimpin telah menjadikan kekusaan sebagai media eksploitasi diri. Kekuasaan telah menjustifikasi akan politik binatang ala machiavelian dan “Ken Arok-isme”. Rakyat telah benar-benar menjadi tumbal politik penguasa. Rakyat menjadi proyek kekuasaan yang empuk untuk memuluskan hasrat kekusaan yang tidak bermoral.
Politik sebagai medium mendapatkan kekuasaan telah menjadi “kandang macan” yang dengan siap menerkam dan mencabik-cabik rakyatnya. Demi kekuasaan, apapun akan dilakukan untuk memuluskan hasrat politik yang membirahi. Sehingga bagi politisi yang tidak kuat, dia akan “melacurkan diri” demi kepentingan golongan dan pribadinya. Politik yang fitrahnya sebagai medium kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, telah berubah menjadi politik yang mengakibatkan rakyat menderita dan sengsara.
Hilangnya etika politik dan moral pemimpin menjadikan penguasan melakukan politik yang berada diluar norma dan etika sosial. Indonesia tengah kehilangan figur pemimpin dan sosok teladan yang mengedapankan moralitas. Moralitas dan etika kekuasaan akan menjadi amat penting dan dapat dijadikan kerangka acuan dalam proses penyelenggaraan pemerintah. Moral dan etika merupakan barometer dalam menilai integritas dan kemajuan sebuah bangsa.
Moralitas dan etika kekuasaan juga merupakan sebuah konsepsi kepemimpinan (leadership) yang tumbuh dari kehendak kultural masyarakat dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, bukan berasal dari proses legal-formal seperti yang terjadi saat ini.
Keteladanan
Muhammad sang nabi adalah manusia pilihan Tuhan yang membawa misi suci dari langit, yaitu agama Islam yang rahmatan lil alamin, menjunjung tinggi nilai humanisme, egalitarianisme, dan nilai-nilai universal Islam lainnya. Nabi Muhammad telah membawa misi suci Tuhan ke dunia. Ia mampu membangun peradaban agung Islam yang penuh kegemilangan.
Ketika pindah ke Madinah, dengan keteladaan dan kepemimpinannya, Muhammad mampu membangun Negara Madinah yang mencerminkan baldatun toyyibatun wa rubbun ghafur. Negara yang penuh kemakmuran, kesejahteraan dan rakyatnya tentram hidup di dalamnya.
Rekam jejak Nabi Muhammad baik dari sikap atau sifatnya akan menjadi pencerah hati sejati. Maulid Nabi adalah upaya menggali kembali keutuhan ajarannya yang langsung diturunkan Allah Swt melalui malaikat jibril dan meneladani tradisi (as-sunnah) yang dilakukan Nabi. Ajaran yang dibawa Nabi tidak hanya berkutat di ranah keagamaan an sich, namun sekaligus di ranah sosial, politik maupun budaya.
Keagungan karakter dan sepak terjang Muhammad dalam mambangun peradaban gemilang Islam telah menjadikan pemimpin yang gemilang nan sempurna. Muhammad dengan perfect membangun peradaban Islam yang adiluhung. Sehingga, tidak salah kalau Michael Hart (2006) menempatkan Nabi Muhammad di urutan pertama sebagai orang yang paling berpengaruh bagi peradaban dunia.
Dengan meneladani sikap hidup Nabi Muhammad diharapkan akan dapat menjadi obat bagi krisis keteladanan dan krisis kepemimpinan bangsa, yaitu dengan meneladani setiap tindakan (bifi’lihi), perkataan (biaf’alihi) dan persetujuannya (bi-taqririhi). Bangsa ini diharapkan mampu menggali spirit figur keteladanan kepemimpinan Nabi Muhammad dalam membangun negara dan peradaban Islam. Bangsa Indonesia, terutama para pemimpin harus mampu meneladani gaya kepemimpinan Nabi Muhammad yang penuh kesantunan, kasih dan peduli terhadap rakyatnya. Suatu pola pemimpin yang cenderung membawa kepentingan rakyatnya.
Sifat-sifat jujur (shidiq), terpercaya (amanah), menyampaikan kebenaran (tabligh) dan cerdas merupakan ciri khas pribadi Muhammad dalam memimpin bangsa dan rakyatnya. Keempat sifat ini sejatinya tertanam dalam diri seorang pemimpin, yang memimpin bangsa ini ke depan di tengah persaingan yang semakin keras dalam pergaualan dunia. ***
*) Penulis adalah pegiat di Komunitas Literasia Yogyakarta /3 Februari 2012
Read more...

Sajak Tono Viono

0 komentar

Situ Lembang

kekasihku, apakah kita harus mengakhiri
apa yang sebenarnya belum kita mulai.

tepi danau inilah yang selalu menyinggung ingatan.
lelehan kabut dari puncak gunung
terapung, menyamarkan kenangan dan luka.
pohon-pohon tegak dengan sendirinya
tak seperti kesetiaan kita yang rapuh dan lapuk oleh waktu.
dan aku memang tahu, lanskap jalan ini
landai namun terasing.

sepanjang usia,
kau bertanya mengapa daunan jatuh
tanpa bahasa.

langit hitam, kampung mulai melebam.
dua nelayan terburu mengangkat jaringnya
seakan danau ini tak lagi bersahaja
ikan-ikan enggan tersesat dalam bubu mereka.
lalu, lihatlah kita
mataku yang berlumut
rintik hujan tampak setia, enggan terusik dari pipi.
sebab kau selalu tergesa menitipkan sesuatu,
mungkin kebisuan.
kekasih, apakah ini kesetiaan?

di sekeliling danau, daun-daun mahoni jatuh.
mengambang, memutar kenangan.
sepertinya aku tahu, kita tak akan dipertemukan kembali.
malam yang menyurut, matahari berlaut.
atau embun yang terasa asin di mata kita.
kekasih, lalu inikah kesabaran?
seakan-akan taman ini serupa dengan surga,
yang menjadi pangkal dari perpisahan Adam dan Hawa.

2011
Read more...

Rabu, 01 Februari 2012

Diklat Sastra XVII

0 komentar

Diklat Sastra XVII
Tanggal 17-19 Februari 2012
Tempat: VillaBukit Lobis

Pengambilan fomulir @kantor ASAS Gd. PKM lt.1 No.6
Tanggal 19-11 Januari 2012
Pukul 13:00-17:00 wib


Syarat diklat:
Membawa karya
puisi 10 buah, cerpen 2 buah dan esai 1 buah
Biaya pendaftaran
RP 30.000.-
CP:
Selly: 085624806949
Kamal: 085722394040
Read more...

Download Novel "40 Days in Europe"

0 komentar
Sinopsis

40 Days in Europe menceritakan tentang perjuangan 35 pelajar asal Indonesia yang berambisi menyebarluaskan salah satu budaya Indonesia yaitu Angklung. Dengan misi Expand the Sound of Angklung, pelajar-pelajar tersebut melakukan perjalanan mengelilingi negara-negara yang ada di Eropa untuk menebar pesona Angklung agar orang asing lebih mengetahui kekayaan budaya Indonesia.
Walaupun didera masalah finansial, kelompok pelajar ini pantang menyerah untuk menyelesaikan misinya. Di setiap negara yang disinggahi, mereka berusaha untuk tampil di festival-festival yang diadakan di negara tersebut.
Lebih dari sepuluh kota di berbagai negara di Eropa mereka jelajahi, dan di festival yang mereka ikuti, merekapun berhasil mendapat berbagai penghargaan.
Buku ini menceritakan pengalaman yang menarik sekaligus inspiratif bagi pembacanya, juga memberi pesan moral pada kita agar terus berusaha dalam mengerjakan sesuatu walaupun hanya tersedia sedikit peluang. Buku yang dramatis tapi menghibur !



Read more...

Telepon

0 komentar
1

SUDAH tujuh belas tahun saya tak bicara dengannya. Telepon itu tak pernah dia angkat. Saya terus meneleponnya tanpa sewaktu pun terlewatkan. Anggap saja saya gila.

Bayangkan, flat sesempit itu harus terganggu dengan bunyi telepon bertahun-tahun. Tak putus-putus. Sungguh dia si sombong. Benar-benar sombong. Tujuh belas tahun dia begitu keras kepala.

2

TERSERAH apa yang mau ia katakan. Dan ingin kukatakan, ia gila dan menyebalkan! Namun, mengapa ia begitu sabar? Entahlah, aku tak tahu kapan telepon itu akan kuangkat. Salah sendiri mengapa ia tak merawat cinta.

Ya, banyak alasan untuk tidak mengangkatnya. Bagaimana kalau ia begitu gila dan menyebalkan atau aku sudah tak lagi terganggu dengan bunyi yang berisik itu. Bunyi yang itu-itu saja, yang melulu itu-itu saja. Entahlah, aku hanya ingin dengar bunyi itu. Bunyi yang setia. Kubayangkan ia terus duduk atau berdiri atau tidur atau apa saja, terus berjaga di sisi teleponnya dan menunggu di suatu waktu suara dering. Aku takut mendengar suaranya. Kalau kuangkat mungkin ia marah-marah, “Kamu ke mana saja selama ini?”. Entahlah, mungkin aku juga diam saja. Tapi orang-orang di luar itu terus mengetuk pintu. Aku tahu apa yang mereka inginkan.

3

KAMI cuma ingin ia mengangkat teleponnya. Segeralah angkat teleponnya! Kami sudah lama terganggu. Bunyinya begitu bising. Kami sudah bosan mendengarnya. Apa yang ia lakukan? Mondar-mandir depan teleponnya yang ia letakkan di sisi jendela, kadang duduk, kadang juga tak terlihat di sana.

Tujuh belas tahun kami mendengar suara itu. Kami tak butuh alasan apa pun. Ia benar-benar sinting. Juga penelepon itu. Penelepon itu. Sebenarnya siapa dia?

4

PANGGIL saya si penyabar. Saya malas meninggalkan telepon ini. Rasanya seperti berkhianat kalau saya beranjak jauh dari sini. Walau hanya untuk ke kamar mandi atau bahkan mengambil sendok yang letaknya sepuluh meter dari sini. Ya, sejak itu pula tubuh ini mulai hancur, tak terawat. Biar saja begini daripada sesuatu lain yang hancur dan tak bisa diperbaiki lagi.

Apa yang dia lakukan? Saya tak yakin kalau dia telah mati atau meninggalkan flat-nya.

5

KEYAKINANNYA benar. Aku belum mati meski jantungku mulai melemah. Sebenarnya aku ingin tahu bagaimana keadaannya sekarang. Mungkin ia hancur dan tak terawat. Ya, mengapa harus merawat tubuh kalau merawat cinta saja tidak bisa? Ketahuilah, aku belum meninggalkan flat ini. Bahkan tak akan meninggalkannya. Sudah tujuh belas tahun aku tak keluar sama sekali.

Kalau bosan, aku selalu berdiri di depan jendela atau pergi ke beranda sambil menikmati bunyi itu. Tapi hanya sebentar saja sebab orang-orang itu selalu meneriaki aku dengan kata-kata yang tak enak atau sekadar menatap dengan geram. Di beranda saja sudah terlalu cukup bagiku, sementara di luar gaduh sekali.

6

KAMI gaduh karena telepon itu. Kami sudah tak tahan lagi. Kami berkumpul di depan flatnya. Anggap saja semacam demonstrasi. Memintanya agar menghentikan telepon itu. Bagaimanapun caranya. Tak mungkin kami memutus jaringan telepon miliknya.

Kami gedor pintu flatnya meski kami tahu ini percuma. Sebab sudah berulangkali kami berbuat begini. Apa yang dilakukannya di dalam sana dan apa yang dilakukan si penelepon di ujung sana?

7

YA, kadang-kadang saya berpikiran tentang apa yang saya lakukan sebenarnya. Tapi sungguh kali ini pikiran itu benar-benar mengganggu. Kepala ini setengah menunduk, terasa begitu berat.

Gagang telepon itu saya letakan. Dan tiba-tiba segalanya begitu mati. Padam. Keputusasaan itu seperti apa? Dan maut itu yang bagaimana? Sedang saya belum mengalaminya. Bolehkah saya namakan perasaan ini sebagai kasih sayang?

Di luar, siang begitu redup. Angin masuk lewat jendela yang setengah terbuka itu. Jauh di ujung saya merasakan ketidaksetiaannya. Mungkin sudah waktunya saya tak meneleponnya lagi. Mungkin sudah harinya saya harus menanggung kekecewaan berat.

Namun, saya tak akan meninggalkannya. Saya akan tetap di bangku ini. Melihat telepon ini saja rasanya sudah cukup.

8

SUDAH sebelas tahun telepon itu tak bunyi lagi. Tak benar kalau telepon ini rusak namun sesuatu yang lain telah rusak. Kurasakan hari-hari ke belakang, tahun-tahun ke belakang sungguh sangat berat. Sudah sebelas tahun aku jadi mudah rindu.

Mudah-mudahan ia baik-baik saja. Dugaanku pasti salah. Pasti ia menanggung kekecewaan berat. Dan itulah hal terberat dalam dirinya. Dan ia tak baik-baik saja. Mengapa aku begitu keras kepala dan begitu merasa bersalah?

9

KAMI yang merasa bersalah. Bunyi itu kini tak ada lagi. Mudah-mudahan matinya telepon itu bukan karena kami. Matinya telepon itu tak meredakan gangguan untuk kami. Malah mungkin kami semakin terganggu dengan perasaan bersalah itu.

Sebelas tahun lalu anak-anak kami masih kecil dan kami masih muda, ketika telepon itu tak henti berdering. Sekarang kami mulai menanggung rindu pada suara itu. Sekarang begitu sunyi.

10

SEKARANG begitu sunyi. Jendela itu tetap setengah terbuka namun segalanya seperti menutup. Tak pernah saya sesedih ini. Angin yang sayup dan terlalu menyakitkan itu melepas rambut yang telah memutih satu-satu ini. Terus terang, di masa-masa tua ini saya jadi sangat sulit bergerak dan memutuskan untuk tetap tinggal di kursi ini, memperhatikan telepon yang sama tuanya dengan umur saya dan umurnya. Diam-diam telepon itu mirip dengannya. Si nenek tua yang sombong.

11

AKU sombong, ya? Maaf. Si nenek tua ini sudah tak sanggup lagi bertahan. Jantungku sudah seharusnya mati. Tapi mengapa masih saja bergerak. Sebelas tahun kesunyian ini membuat jantungku kian melemah. Aku mudah sekali terkejut. Bisa saja aku mati karena suara jendela yang terbanting angin. Bahkan bisa saja mati karena suara telepon ini. Bisa saja. Namun lebih menyenangkan bila mati karena suaramu. Sungguh. Tak ada bedanya suara telepon ini dengan suaramu.

Kadang-kadang aku merasa seperti seorang remaja yang wajar saja bila merasa rindu. Remaja dengan tingkah yang aneh. Padahal kematian sudah kurasakan sebelum bulan-bulan lalu, sebelum hari-hari sekarang.

Kupeluk telepon ini. Beginilah caranya merawat cinta.

12

MAAFKAN saya juga karena tak bisa merawat cinta. Telepon ini saya genggam. Beginilah caranya melempar rindu. Sudah saatnya sebelum segalanya terlambat meski memang sudah terlambat, merasa sebentar lagi adalah akhirnya.

Seperti sebelas tahun yang lalu, saya putar lagi angka-angka alamat bibirnya dan segala yang hidup dalam dirinya.

Suara nada sambung yang sederhana itu terdengar lagi. Saya ingin dengar suaranya. Segalanya sudah segila ini.

Mengapa saya jadi mirip anak kecil yang selalu butuh dimaklumi?

13

KAMI dengar suara itu lagi dan melihat perempuan itu masih duduk, lemah mendekap teleponnya yang sangat mudah direbut. Rambutnya yang putih itu terikat seperti pejam matanya yang begitu abadi. Sedang jendela yang ada di hadapannya tengah bergerak begitu bersahaja. Juga, bibir buah ceri itu melebar dengan sangat sempurna dan terasa begitu dingin. Tak pernah kami melihat dia seriang itu, secantik itu. Sesuatu sedang terjadi dalam dirinya.

Telepon itu terus berbunyi. Kami tahu kapan telepon itu akan benar-benar padam. (*)



Kadangjapati, 2010

Langgeng Prima Anggradinata lahir di Bogor, 6 Desember 1987. Sedang belajar di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Bergiat di Komunitas Seni Rumah Akasia dan Arena Studi Apresiasi Sastra di kampusnya.
Read more...

Profil

0 komentar
Profil
Read more...