Banner 468 x 60px

 

Minggu, 19 Februari 2012

Sang Pedestrian

0 komentar

Sang Pedestrian
Sang Pedestrian
Sastra Ideologis dan Patron Sastra *
Oleh : Tono Viono**

“Di dunia ksatria, mereka seperti diharuskan untuk saling dendam untuk kemudian saling mengalahkan. Merayakan kemenangan secara berlebihan adalah naluri paling buruk dari manusia sejak masa purba hingga masa klasik, bahkan bias jadi nanti pada manusia modern” –Gandamayu

Dahi saya sedikit mengerut ketika mendengar kang Yopi Setia Umbara sebagai pembicara dan juri dari peluncuran buku “Situ Waktu” terbitan HIMA Satrasia UPI beberapa waktu lalu. Di buku itu terdapat kumpulan puisi dari beberapa penulis pemula maupun yang sudah tersohor. Dalam unsur tematik, kebanyakan puisi yang terdapat di buku itu adalah cinta. Memang benar, estetika bahasa puisi sangatlah cocok untuk tema seperti ini. Juga benar bahwa tema cinta itu sangatlah universal. Namun kita tidak bisa memungkiri juga bahwa puisi atau umumnya karya sastra tidaklah lahir dari kekosongan budaya.
Penggunaan diksi non-modern atau diksi alam dapat menandakan bahwa penyair tersebut seolah mengekang diri dari budaya post-modern dan benda-bendanya. Hal yang aneh ketika mengetahui semua penyair yang ada di buku ini teman saya, dan tinggal di kota! Penyair dalam buku ini seolah enggan berbaur dengan transisi benda modern. semisal penyair lebih banyak menggunakan diksi “ranting-ranting” daripada “kaleng bekas” yang menurut saya memiliki kadar puitik yang sama. Saya tidak tahu apakah para penyair memang sengaja lari dari budaya yang melanda mereka atau mereka memang sudah merasa bosan dengan kadar modernitas dunia saat ini.
Sang Pedestrian
Dunia sudah layaknya kertas yang dilipat, semua begitu cepat. Saya berada di ujung kertas dan anda berada di ujung lain kertas, kemudian saya lipat dan syuut! kita dapat bertemu secepat kilat. Setiap manusia adalah homo signtified. Manusia adalah pembuat dan penerima tanda. Manusia menangkap tanda dari lingkungannya, dan mengubahnya menjadi tanda baru. Begitulah seterusnya sehingga menjadi konvensi dan timbulah kebudayaan. Dalam menangkap dan mengubah tanda tersebut manusia memiliki kala yang berbeda-beda. Ada yang berlari dan ada yang menjadi siput. Semua tergantung manusia itu sendiri.
Penyair dalam hal ini adalah seorang pedestrian, seorang pejalan kaki. Mereka tidak berlari dalam menangkap dan mengubah tanda tapi berusaha mengamatinya, memikirkannya, lalu mengubahnya ke dalam bentuk tanda lain : bahasa. Penyair tidak akan serta-merta mengaburkan tanda-tanda kebudayaan di sekitarnya, karena mereka berjalan kaki tidak berlari seperti orang kebanyakan.
Cekokan modernitas pasti akan sangat terasa dalam tanda yang dikeluarkan seorang penyair. Baik itu dari benda-benda modern ataupun pemikiran yang dituangkannya dalam tanda bahasa. Seharusnya ada pergulatan pemikiran antara penyair yang berjalan lambat dengan dunia yang bergerak cepat, itulah puisi. Itulah kutukan seorang penyair.
Di krisis modernitas yang melanda negeri ini, terasa banyak sekali penyair yang sengaja mengaburkan pandangan mereka kepada tanda dari dunia luar. Dari unsur tematik saja, penyair seakan dibuat buta untuk hal besar semacam korupsi, krisis moral, dan masalah sosial lain di Negara ini. Penyair seakan hanya berdiam di pojok kamar didera badai GALAU yang marak akhir-akhir ini. Penyair terjebak dalam dunia autism-nya sendiri. Sastra seolah ikut pincang ketika realitas social pincang, bukannya malah mengobati. Jika begini, maka ada satu fungsi estetis dari karya seni yang tersisihkan, yaitu “possessing” atau “merasuki”. Sastra tidak menjadi alat kebudayaan, namun hanya menjadi hiburan semata. Atau lebih jauh lagi sastra tidak lagi menduduki kursi yang penting di Negara ini. Mungkin kalau seperti ini Chairil Anwar di kubur akan menangis tersedu-sedan. Atau Sutardji malah mengiau sengiau-ngiaunya.
Sastra Ideologis dan Patron Sastra
Hal yang sangat kentara menjadi tanda bahwa sastra tidaklah menjadi konsumsi umum masyarakat kebanyakan adalah media. Seperti kita ketahui, media satu-satunya yang menjembatani karya sastra dan masyarakat adalah Koran Minggu! Dan itupun dengan kolom yag terbatas. Fakta tersebut menunjukkan bahwa sastra bukanlah menjadi bacaan prioritas khalayak, atau setidaknya dalam factor ekonomis tidak memberikan incame yang banyak bagi perusahaan media. Atau kemungkinan terburuk bagi kita pembaca sastra, yaitu sastra bisa jadi bukanlah bacaan yang penting utuk masyarakat.
Ini mengakibatkan kecurigaan saya terhadap sastra yang kini tidak lagi menjadi alat pemersatu, alat kebudayaan, atau taruh buruknya alat politik. Jika kita runut di masa lampau, kita akan menemukan maestro semacam Pramoedya AT, Chairil Anwar yang berhasil menggunakan sastra sebagi penyalur ideology mereka, penyalur falsafah mereka. Dan tentunya, sastra telah berhasil “merasuki” masyarakat. Atau kita terbang jauh ke Rusia, dimana sastrawan sepionir Maxim Gorki yang berhasil mencekoki masyarakatnya dengan ideology Marxist melalui prosanya. Artinya, pentransformasian tanda bahasa menjadi kebudayaan memang benar-benar terjadi. Begitupun dengan fungsi estetis dari karya seni itu hadir, yaitu merasuki, atau bahasa telah benar-benar menjadi mitos.
Saya teringat kepada novel inspiratif karya Akmal N. Basral berjudul “Anak Sejuta Bintang” yang merupakan kisah Aburizal Bakrie semasa kecilnya. Siapa yang tak kenal Aburizal Bakrie. Novel ini merupakan pesanan Aburizal kepada penulis tersebut. Saya memang belum membaca novel ini, namun saya terlanjur curiga terhadap novel ini. Alasannya, mungkin karena saya belum berani masuk ke dunia ideologi-politis yang mungkin saja ada di dalam novel ini. Tapi dekatnya, saya berpikir bahwa sastra sekarang dapat dipesan. Memang, pemesanan sastra tidak dapat disalahkan, seperti halnya seseorang meminta seorang penulis iklan untuk membuat kolom advertisornya. Selain itu, pemesanan sastra sudah terjadi dari dulu sejak zaman kerajaan. Para raja menggunakan sastra sebagai alat kekuasaan mereka. Terkadang mereka menggunakan mitifikasi sehingga menjadi mitologi supaya membuat rakyatnya segan.
Tetapi sekali lagi, apakah benar novel ini tidak memiliki sifat infestasi? Ternyata sayapun masih takut dengan sastra ideologis.
Jika kita melihat pada sederet nama penyair dan kritikus sastra Indonesia seperti Sapardi , Danarto, Faruk, maka jarang sekali kita dapat merasakan secara gamblang ideologi masing-masing tersebut. Meskipun karya mereka tak jarang berbau social. Padahal, penyair atau sastrawan adalah seorang intelektual publik yang berkewajiban sebagi The Messenger atau pembawa pesan.
Pasca kekalahan LEKRA dari otoritas kebudayaan Indonesia, perkembangan sastra kritis mengalami hambatan yang besar. Nyoman Kutha Ratna dalam Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta, menyebutkan bahwa berbagai pengertian dari sastra, khususnya sastra ideologis/sastra propagandis, lebih banyak dikaitkan dengan pengertia negatif (2005:379). Lebih banyak disebutkan bahwa sifat negatif itu dikarenakan sastra ideologis lebih banyak meninjau fungsi dan manfaat karya sastra dengan sudut pandang tujuan, sehingga mengorbankan hakikat karya sebagai rekaan, baik sebagi kualitas estetis atau kualitas kultural. Lebih ekstrem lagi sastra ideologis dikaitkan dengan ideologi Marxist.
Di zaman kebebasan berideologi ini sastra ideologis seolah dicap haram karena faktor eksternal sastra itu sendiri : yaitu sistem politik Negara yang melarang ajaran komunis-Marxist. Di masa orde baru karya sastra yang dicap kiri diberangus dengan berbagai cara. Hal ini menyebabkan mati surinya sastra ideologis dalam kurun waktu yang lama, bahkan mungkin hingga sekarang.
Jika begitu maka sangatlah mungkin sastra digunakan sebagai alat politik? Benar sekali, namun ideologi dapat diartikan secara kritis sebagai seperangkat ide melalui mana orang membiasakan dirinya sendiri dan orang lain dalam konteks sosio-historis yang spesifik, dan melalui mana kemakmuran kelompok-kelompok tertentu dikedepanan. Itulah cara kreatif yang digunakan penyair sebagai pembawa tanda kebudayaan, penyampai otoritas ideologi mereka kepada masyarakat.
Namun kebebasan ideologi dalam sastra juga mungkin membawa dampak buruk bagi pemikiran masyarakat. Apa yang disampaikkan oleh seorang sastrawan tidak selalu benar objektif, tapi ada kalanya terdapat pikiran subjektif yang mungkin saja buruk bagi budaya masyarakat. Hal ini dapat terjaga apabila adanya patron atau skala kebenaran dalam karya sastra. Lalu yang menjadi pertanyaan kita bersama yang manakah patron sastra Indonesia sekarang? Atau siapakah sastrawan yang berhak menjadi patron sastra Indonesia? H.B Jassin-kah? Atau kita sebagai pembaca sastra?
Mari berdiskusi

*Tulisan ini aan dimuat di Jurnal Raja Kadal
** Penulis adalah seorang pejalan kaki UPI-Cimindi dan sejenis kadal

0 komentar:

Posting Komentar